Saya adalah seorang pramugari biasa dari china Airline. Karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap harinya hanya melayan...i penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.
Pada tanggal 17 juni yang lalu saya menjumpai suatupengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari inijadwal perjalanan kami adalah dari shanghai menuju peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.
Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua, dan terlihatjelas sekali gaya desanya. Pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju, seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.
Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minum, ketika melewati baris 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakan mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkan duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengantegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ketoilet tetapi dia takutapakah dipesawat boleh bergerak sembarang, takut merusak barang didalam pesawat.
Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ketoilet, pada saat menyajikan minum yang ke dua kali, kami melihat diamelirik kepenumpang sebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakkan segelas minuman teh dimeja dia. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.
Saat kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya. Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja dikota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat 3 di Peking. Anak sulung yang bekerja dikota menjemput kedua orangtuanya untuk tinggal bersama dikota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega orangtua tersebut naik mobil megitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama – sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri. Akhirnya dengan terpaksa disetujui dengan anaknya.
Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai oleh anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruhditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut diatas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati – hati dia meletakkan karung tersebut.
Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidakmau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil ? dan meminta saya meletakkan makanannya dikantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.
Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga. Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri , perbuatan yang tulus tersebut benar – benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.
Sebenarnya kami menganggap semua hal sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut menyembah kami, mengucap terima kasih bertubi – tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tau bagaimana mengucap terima kasih kepada kalian.
Semoga tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.
Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam – beragam penumpang saya sudah jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain – lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan,hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambilmerangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makananyang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.
Janganlah kalian memandang orang dari penampilan luar, tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.
Rabu, 06 Maret 2013
"Kisah Arloji Yang Hilang"
"Kisah Arloji Yang Hilang"
Ada seorang tukang kayu ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya.
Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya namun sia-sia saja, arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan.
Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati
tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira.
Namun ia juga heran, karena banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu. “Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?”, tanya si tukang kayu.
"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada”, jawab anak itu.
Pesan Moral:
Keheningan adalah pekerjaan yang paling sulit dilakukan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam ‘kesibukan dan kegaduhan’. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan..
RENUNGAN :)
Mengapa terlahir miskin? cacat? kaya? mengapa?
[Jangan Lupa Share jika Anda terinspirasi]
Mengapa bisa terlahir di dalam keluarga ini? Bukan Keluarga yang lain?.....
Mengapa seseorang lahir dalam kehidupan yang miskin atau kaya?...
Mengapa bertemu dengan seseorang, berteman, berjodoh dan bahkan menikah..
Mengapa kondisi fisik seseorang sempurna atau bahkan ada pula yang cacat..
Mengapa ada yg hidup bahagia sejahtera, namun ada juga yang menderita, tertimpa musibah dan bencana..
"Ada sebab ada akibat..Semuanya terjadi bukanlah kebetulan saja"
Sesuai benih yg ditabur demikianlah para penabur akan menuai benih daripadanya.. (Dhammapada)
Setiap perbuatan kita di kehidupan ini entah baik atau jahat, diri kita sendirilah yg akan menerimanya kembali..
Bila tidak dalam kehidupan kali ini maka di kehidupan yg akan datang..
Seseorang yg telah mengetahui kebenaran ini tidak akan ada niat untuk menyakiti mahkluk hidup apapun di sekitarnya, karena dia tahu bahwa segala perbuatan yg dilakukan olehnya akan kembali juga kepada dirinya sendiri..
Sesuai hukum kekekalan energi, energi hanyalah berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya, seperti itulah energi perbuatan kembali lagi pada bentuk lainnya di suatu masa.
Kammasaka.. "Semua mahkluk mewarisi karmanya sendiri"
Bila ingin melihat kehidupan masa lalu sebelum kelahiran ini, lihatlah kehidupanmu saat ini..
Bila ingin mengetahui kehidupanmu di kehidupan yang akan datang, lihatlah apa yg telah dilakukan oleh dirimu pada kehidupan kali ini..
"Jangan berbuat jahat, sucikan hati dan pikiran..itulah inti ajaran Buddha"
Note:
Apabila anda tidak sepaham, ambillah nilai kebaikannya saja apabila ada nilai baik yang anda rasakan dalam renungan ini, apabila tidak ada maka abaikan saja.
Semoga semua mahkluk terbebas dari penderitaan dan marabahaya..
Semoga semua mahkluk terbebas dari dendam dan bencana
Mahkluk apapun juga baik yang terlihat maupun tidak terlihat, di seluruh penjuru alam semesta.
"Semoga semua makhluk berbahagia"
"Sabbe satta bhavantu sukhitatta"
สัพเพ สัต ตา ภะ วัน ตุ สุขิตัต ตา
Sumber: http://www.artikelbuddhis.com/2013/03/mengapa-terlahir-miskinkaya.html
[Jangan Lupa Share jika Anda terinspirasi]
Mengapa bisa terlahir di dalam keluarga ini? Bukan Keluarga yang lain?.....
Mengapa seseorang lahir dalam kehidupan yang miskin atau kaya?...
Mengapa bertemu dengan seseorang, berteman, berjodoh dan bahkan menikah..
Mengapa kondisi fisik seseorang sempurna atau bahkan ada pula yang cacat..
Mengapa ada yg hidup bahagia sejahtera, namun ada juga yang menderita, tertimpa musibah dan bencana..
"Ada sebab ada akibat..Semuanya terjadi bukanlah kebetulan saja"
Sesuai benih yg ditabur demikianlah para penabur akan menuai benih daripadanya.. (Dhammapada)
Setiap perbuatan kita di kehidupan ini entah baik atau jahat, diri kita sendirilah yg akan menerimanya kembali..
Bila tidak dalam kehidupan kali ini maka di kehidupan yg akan datang..
Seseorang yg telah mengetahui kebenaran ini tidak akan ada niat untuk menyakiti mahkluk hidup apapun di sekitarnya, karena dia tahu bahwa segala perbuatan yg dilakukan olehnya akan kembali juga kepada dirinya sendiri..
Sesuai hukum kekekalan energi, energi hanyalah berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya, seperti itulah energi perbuatan kembali lagi pada bentuk lainnya di suatu masa.
Kammasaka.. "Semua mahkluk mewarisi karmanya sendiri"
Bila ingin melihat kehidupan masa lalu sebelum kelahiran ini, lihatlah kehidupanmu saat ini..
Bila ingin mengetahui kehidupanmu di kehidupan yang akan datang, lihatlah apa yg telah dilakukan oleh dirimu pada kehidupan kali ini..
"Jangan berbuat jahat, sucikan hati dan pikiran..itulah inti ajaran Buddha"
Note:
Apabila anda tidak sepaham, ambillah nilai kebaikannya saja apabila ada nilai baik yang anda rasakan dalam renungan ini, apabila tidak ada maka abaikan saja.
Semoga semua mahkluk terbebas dari penderitaan dan marabahaya..
Semoga semua mahkluk terbebas dari dendam dan bencana
Mahkluk apapun juga baik yang terlihat maupun tidak terlihat, di seluruh penjuru alam semesta.
"Semoga semua makhluk berbahagia"
"Sabbe satta bhavantu sukhitatta"
สัพเพ สัต ตา ภะ วัน ตุ สุขิตัต ตา
Sumber: http://www.artikelbuddhis.com/2013/03/mengapa-terlahir-miskinkaya.html
Senin, 04 Maret 2013
KASUS PEMBUNUHAN YANG TIMBUL AKIBAT HUKUM KARMA (TAIWAN)
Nenek itu bernama Tan Bi-Gwat, kelahiran Eng-Jun di Propinsi Hokkian, berusia 66 tahun, bersama putranya beliau tinggal di luar kota Ki Liong.
“Hwatsu,” nenek Tan Bi Gwat mulai berkisah, “aku ini perempuan malang yang selalu hidup menderita, pada usia 23 tahun, aku ikut suami berlayar ke Taiwan dan mencari nafkah di sini. Beberapa tahun lamanya suamiku bekerja keras dan berat untuk membiayai hidup keluarga.
Hingga suatu hari suamiku jatuh sakit, meski sudah berobat ke mana-mana penyakitnya bertambah parah, tabungan kami yang sedikit akhirnya habis untuk biaya pengobatan, akhirnya suami saya meninggal dunia. Waktu itu aku berumur 33 tahun.
Di masa hidupnya suamiku adalah pekerja yang tekun dan rajin. Namun, situasi dan fasilitas kerja yang tidak memadai menyebabkan suamiku jatuh sakit dan tidak dapat terobati lagi.
Selama beberapa tahun, di samping harus merawat suami yang sakit, aku pun bekerja dan mengasuh putra-putriku yang masih kecil. Betapa sengsara kehidupan kami waktu itu. Syukur para tetangga dan kerabat kerja suamiku yang baik hati bergotong-royong membelikan peti mati dan membereskan penguburan jenasah suamiku, sehingga beban yang teramat berat ini terasa sedikit ringan.
Setelah suamiku tiada, aku dan kedua anakku terpaksa menumpang tinggal di rumah adik suamiku, padahal kehidupan keluarga mereka juga pas-pasan.
Dua tahun lamanya, kami tinggal berdesak-desakan di dalam rumah yang sempit dan reyot, beberapa lama kemudian aku merasa tak mungkin kami bertiga tinggal lebih lama lagi bersama mereka. Maka aku pun memutuskan untuk pindah ke tempat yang lain yang diberikan oleh bekas teman suamiku yang baik hati. Meskipun hanya berupa pondok emperan, di sini kami bertiga harus berjuang keras untuk mencari nafkah. Pada waktu itu, putraku berumur 10 tahun, terpaksa harus bekerja sebagai pembantu kuli bangunan di tambang batu bara, sedangkan putriku berkeliling kota menjajakan makanan kecil, sedangakan aku bekerja sebagai tukang cuci pakaian dan kerja serabutan lain untuk bertahan hidup. Berkat doa sepanjang hari, meski keadaan kami masih serba kekurangan, namun jauh lebih tentram dan bebas.
Adik suamiku sering berkunjung membawa oleh-oleh untuk kedua anakku, melihat pakaian anakku yang compang-camping, makan tidak kenyang, tidur tidak nyenyak, maka dia menganjurkan supaya untuk menikah lagi. Demi masa depan anak-anakku, akhirnya aku menerima sarannya setelah didesak berulang kali, atas inisiatifnya aku diperkenalkan dengan seorang laki-laki bernama Ui-Ciok Liang.
Akhirnya kami menikah, selama beberapa tahun kami hidup rukun dan tentram, karena aku tidak melahirkan anak lagi, maka suamiku amat menyayangi putra-putriku, dan di sisi lain kehidupan kami mulai meningkat, anak-anak juga mulai dapat bersekolah.
Sehingga aku merasa lega karena masa depan putra-putriku dapat terjamin.
Pada waktu itu, sebagai pengungsi menurut aturan aku dilarang menikah dengan penduduk setempat, maka dalam catatan kartu penduduk hubungan kami hanya dianggap sebagai “kumpul kebo” (samen leven) saja, secara hukum tidak dianggap sebagai suami istri yang resmi. Karena masalah kependudukan dan formalitas penikahan itu, suamiku mulai sering marah-marah dan gundah, padahal berbagai cara dan upaya sudah kami tempuh, akan tetapi urusan itu tidak pernah selesai juga.
Kebetulan kakak suamiku bekerja di kantor catatan sipil di kota, tahu tata hukum dan peraturan kependudukan, walaupun orang dalam ia tidak mampu membantu menyelesaikan masalah itu. Kemudian ia mengajurkan adiknya untuk bercerai dengan kami dan menikah lagi dengan perempuan lain.
Karena masalah yang tidak beres itu, tidak jarang suamiku ditertawakan oleh teman-temannya, “Sudah berapa tahun kamu hidup dengan ibu dan anaknya itu, tapi hukum tidak mengakui pernikahan kalian, hanya secara adat boleh dianggap sebagai “kumpul” saja. Kenapa kamu tidak menikah lagi saja dengan perempuan yang lebih muda?”
“Secara resmi aku memang bukan suami Bi-Gwat,” kata suamiku membalas ejekan temannya itu, “tapi aku bisa membuktikan bahwa aku bisa membereskan persoalan ini.”
Orang lain malah ikut-ikutan menghasut, “Dianjurkan menikah lagi, kamu kok malah tidak mau, padahal perempuan itu lo bukan istrimu secara resmi, lalu apa artinya kamu berkeluarga?”
Suamiku menjawab, “ Kalau terpaksa aku akan membunuhnya, aku tak rela bila dia menjadi istri orang lain.”
Pada tanggal 15 bulan 8, udara pada saat itu amat panas dan tidak enak, pada malam hari itu, aku melihat rona muka suamiku agak ganjil, maka aku waspada dan siaga, karena secara diam-diam ada orang yang memberitahu padaku bahwa suamiku akan membunuhku malam itu juga. Menjelang tidur aku berkata kepada suamiku, “Sudah beberapa tahun kita tinggal sebagai layaknya suami istri resmi, betapa rukun dan damai kehidupan saat ini, masalah kependudukan dan pernikahan itu kan tidak perlu kita risaukan? Lalu apa alasannya kamu sering marah dan menyalahkannku? Ada orang yang mengatakan bahwa engkau akan membunuhku, apa benar demikian?”
“Ah jangan percaya omongan orang lain,” demikian keluh suamiku, “mereka hanya mengodamu saja, bukankah aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku? Anak-anak juga saya pada aku, kenapa aku harus membunuhmu? Jangan hiraukan omongan orang.”
“Aku pun berpikir demikian, anak-anak patuh dan hormat padamu, soal resmi tidak pernikahan kita, kenapa harus dirisaukan?”, demikian bujukku.
Karena masalah itu telah aku bicarakan dari hati ke hati, aku merasa tidak ada gejala yang menguatirkan, selanjutnya hidup ini akan terasa lebih tentram dan damai. Dalam beberapa waktu, masalah itu tidak aku pikirkan lagi.
Pada tanggal 25 tengah malam, entah kenapa sewaktu kita semua sudah tertidur dengan lelap, mendadak aku terjaga dari tidurku dan kulihat suamiku menghunus sebilah pedang samurai, sambil bergelak tawa yang beringas secara membabi buta ia menusuk dan membacok perut, dada, pundak, kaki, tanganku, perutku tertusuk bolong dan sobek, isi perutku kedodoran keluar, sebagian malah ada ususku yang putus berceceran di lantai akibat amukan amukannya yang kalap. Entah kenapa, aku tidak merasa sakit sama sekali, tidak pingsan dan tidak berusaha lari untuk menyelamatkan diri.
Di tengah gelak tawanya yang beringas ia berkata, “Membabat rumput itu harus seakar-akarnya. Satu pun tidak boleh ada yang ketinggalan.”
Putriku yang waktu itu berusia 14 belas tahun juga diserang hingga terluka parah, dalam usahanya untuk melarikan diri sambil menjerit ketakutan, ia terjungkal jatuh dari loteng, dan nyawanya tidak dapat tertolong lagi. Melihat ibu dan kakaknya yang mati terbunuh, putraku berdiri terkesima di atas loteng, tanpa menghiraukan keadaanku sendiri, aku berteriak menyuruhnya untuk melarikan diri. Namun, suamiku mengejarnya ke atas dan dan hendak membunuhnya pula, aku mencegah dan berusaha merebut samurai dari tangannya, jari-jari tangan kananku putus karenanya. Untung putraku lolos dari maut dan ditolong oleh para tetangga yang berdatangan setelah mendengar keributan ini. Melihat banyak orang bedatangan ke rumahnya, suamiku berusaha bunuh diri dengan menusukkan samurai ke tubuhnya, akan tetapi lukanya tidak parah, polisi yang mendapat lapran itu datang dan memborgolnya.
Waktu itu aku tidak memperdulikan keadaaanku sendiri, yang kukuatirkan hanya keselamatan putra-putriku, seorang tetanggaku membujukku, “Coba kaulihat dirimu sendiri, badanmu penuh dengan lukua dan lukamu amat parah. Anak-anak sudah selamat kok tidak perlu kamu kuatirkan.”
Mendengar ucapan itu, hatiku merasa lega, rasa sakit tak dapat lagi aku tahan lagi, badan menjadi lemas lunglai, rasanya aku kehabisan banyak darah, akhirnya aku pun ambruk dan tak sadarkan diri. Polisi segera membawaku ke rumah sakit di kota untuk memperoleh pertolongan. Pada waktu itu, rumah sakit swasta di kota tidak mau menerima diriku.
Karena sudah empat jam luka-luka di tubuhku belum terawat, jangan kata dijahit ataupun dioperasi, diobati juga belum, tuibuhku berlepotan darah, keadaanku waktu itu sedang dalam kritis. Celakanya rumah sakit baru buka dan mau menerima pasien setelah jam 7 pagi, kira-kira jam sebelas siang, administrasi baru selesai dibereskan, aku akhirnya digotong ke kamar operasi, dokter lalu menjahit dan mengoperasi luka-luka di tubuhku.
Direktur rumah sakit datang menjenguk keadaaanku, sebagai ahli dokter bedah ia juga sibuk menolongku, operasi dilakukan beberapa jam, aku harus menjalani transfusi darah, perutku yang bolong dioperasi dan dijahit, sebagian usus ada yang putus harus dipotong dan dibuang, sebagian lagi malah ada yang membusuk. Keadaanku amat gawat, dokter menilai dengan kondisiku waktu itu, jiwaku tak mungkin dapat ditolong lagi, maka operasi diselesaikan secara terburu-buru, isi perut yang kedodoran keluar dimasukkan begitu saja lalu dijahit secara kasar, maklum mereka beranggapan hidupku tinggal beberapa jam lagi.
Malam harinya, aku dipindah ke kamar mayat untuk menunggu ajal, kebetulan suamiku yang mencoba bunuh diri dengan luka-luka yang tidak terlalu parah, disekap di kamar sebelah, samar-samar seseorang bertanya kepadanya, “Kenapa kau ingin membunuh istrimu?” suamiku menjawab, “Perempuan itu bejat! Kotor dan jahat! Maka aku pun membunuhnya. Apakah wanita itu dapat tertolong?” lalu orang itu menjelaskan, “Mana mungkin dapat tertolong. Dokter mengatakan bahwa tengah malam nanti jiwanya pasti akan melayang.” Maka suamiku menyampaikan pesan kepada suster tadi, untuk memberikan kabar lagi besok pagi. Dari nada bicaranya aku merasakan bahwa laki-laki itu tidak menyesal sedikitpun, malam itu tidak terdengar lagi ocehannya, mungkin sudah tertidur pulas dan mimpi indah, hasratnya sangat besar untuk membunuhku.
Meski aku dalam keadaaan sekarat, pembicaraan mereka dapat kudengarkan dengan jelas, betapa pedih dan dendam hatiku mendengar tuduhan suamiku yang kejam itu, rasanya aku ingin mengaruk putus benang jahitan operasiku biar aku lekas mati, sayang tenagaku tak mampu aku kerahkan, jari tanganku pun tak mampu aku gerakkan, terpaksa aku hanya menanti ajal.
Waktu suster dinas malam datang, rekannya yang tiba saatnya istirahat memberitahau, “Ada pasien perempuan di kamar sebelah, menurut dokter jiwanya tak dapat tertolong lagi diperkirakan menjelang tengah malam ajalnya akan tiba, dokter berpesan agar engkau memperhatikan keadaannya, kapan dia menghembuskan nafas terakhirnya, secara tepat dibuatkan laporan.” Beberapa waktu kemudian, suster yang dinas malam pulang ke rumahnya mengajak suaminya sebagai teman jaga malam, menunggu ajalku.
Aku tahu ajalku tidak lama lagi, aku penasaran, aku merasa menyesal, hidupku sangat menderita dan sengsara, jiwaku seperti tidak berharga lagi. Suster yang mengajak suaminya jaga malah tertidur pulas, tidak menuaikan kewajibannya sebagaimana semestinya, kalau sewaktu-waktu jiwaku melayang, entah bagaimana dia akan bertanggungjawab. Setengah jam menjelang tengah malam, lahir batinku mendadak menjadi jernih, tiba-tiba teringat olehku akan dewi Kwan Im yang welas asih dan selalu menmberi pertolongan pada umatnya. Sejak kecil aku adalah seorang umat buddhis yang saleh dan selalu rajin sembahyang, aku pun memejam mataku dan mulai berdoa secara terus-menerus, secara tidak terduga, terjadilah keajaiban, samar-samar aku merasakan adanya perubahan di kamar mayat itu, waktu aku sedikit membuka mataku, tidak kudapatkan lagi orang di kamar itu, namun cahaya cemerlang membuat kamar mayat itu terang benderang, sekonyong-konyong tampak Dewi Kwan Im muncul dan berada di pinggir pembaringanku, di belakangnya tampak berbaris beberapa bayangan orang, semua bersikap khidmad menunduk membaca doa, Dewi Kwan Im memegang selembar daun pisang yang diangsurkan kepadaku.
Aku pun merasa heran, kenapa daun pisang diberikan kepadaku, lalu Dewi Kwan Im menjelaskan kepadaku, “Ini bukan daun pisang, tetapi pusaka yang tidak terdapat di dunia, bentuknya memang mirip daun pisang di dunia.” Begitu aku menerima pusaka mirip daun pisang itu, seketika aku merasa deritaku banyak berkurang. Samar-samar aku masih ingat seperti menginggau sendiri, “Oh tidak ada di dunia, syukurlah.” Lalu aku tidur pulas dengan tenang. Keesokan pagi harinya, segala derita tidak kurasakan lagi, bukan saja ajalku tidak tiba tengah malam tadi, keadaanku malah lebih segar, tenang dan sadar, namun tubuhku masih terasa lemas.
Pada hari ketiga, rumah sakit itu menjadi geger, dokter spesialis yang diutus Departemen Kehakiman di Taipe segera datang, lima orang dokter memeriksaku secara bergiliran lalu mengoperasiku lagi. Maklum secara medis belum pernah ada pasien yang terluka seperti kondisiku dapat bertahan hidup dari waktu yang diperkirakan pihak rumah sakit. Kenyataanya aku terus bertahan hidup hingga beberapa hari lagi, kasus ini mengemparkan kalangan kedokteran dan masyarakat. Walikota Ki Liong menyempatkaj waktunya untuk datang menjengukku serta menghiburku, “Dulu engkau pasti pernah melakukan kebaikan, maka dewa melindungimu. Ditinjau kondisimu saat ini, mustahil kalau orang biasa dapat hidup. Kenyataannya kamu masih hidup, agaknya rejekimu besar sekali.”
Mendengar ucapan walikota aku menjadi terharu dan menangis sesengukan, terbayang olehku betapa menderitanya hidupku selama ini, suami mati keluarga berantakan, kapan aku pernah menerima rejeki sebesar ini?
Walikota lalu menghiburku lagi, “Sebagian usus dan perutmu sudah membusuk, kau tidak boleh banyak bergerak, jangan sedih putra-putrimu sudah tertolong dan selamat.”
“Jangan membohongiku,” kataku sedih, “aku tahu putriku telah meninggal dan telah diperabukan.”
“Syukurlah kalau kau sudah tahu, agaknya putrimu tidak punya rejeki sebesar dirimu, dengan uang pribadiku akan kubayar seluruh biaya pengobatanmu. Dokter memberitahuku, orang yang perutnya bolong dan usus kedodoran yang membusuk, jiwanya tak mungkin dapat diselamatkan lagi. Tapi engkau tidak mati, kejadian ini sungguh sangat aneh, aku yakin rejekimu memang besar.”
Walikota betul-betul menepati janjinya, semua biaya pengobatan di rumah sakit itu telah dilunasi semua, waktu pulang aku diberi oleh-oleh dan uang, setiap Sin Cia (Tahun Baru Imlek) beliau selalu mengirim kado untuk kami berdua sebagai ucapan selamat.
Beberapa hari kemudian, keadaaanku berangsur-angsur membaik, kudengar suamiku bertanya pada suster, “Tengah malam yang kemarin, apa wanita jahat itu sudah mampus?”
Suster yang dinas malam itu menjawab, “Sungguh sangat aneh, bukan saja tidak mati, ia malah sembuh lebih cepat dibanding orang lain, keliatannya tidak kesakitan lagi.”
Suamiku mengertak gigi, suaranya terdengar geram, “Hm, agaknya aku gagal membunuhnya, lain kali akan kupenggal kepalanya, kalau leher sudah putus apa dia masih bisa hidup?”
Kuatir suamiku berbuat jahat lagi, pihak rumah sakit memborgol kaki dan tangannya. Entah dari siapa ia tahu bahwa kamarku akan dipindahkan ke lantai dua besoknya, dengan geram ia berkata, “Pisau aku tidak punya, tapi dengan borgol besi ini aku dapat memukul hancur perut dan dadanya, buktikan saja apa dia masih dapat hidup?”
Pada suatu hari keadaan sepi, diam-diam suamiku naik ke lantai dua untuk mencari kamarku, untung sebelum berbuat jahat dia kepergok penjaga lalu menghajarnya jatuh ke bawah loteng, sejak saat itudia diisolir dalam kamar tersendiri. Setelah sembuh, suamiku diajukan ke meja hijau dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.
Setelah sembuh, aku akhirnya pulang ke rumah, siang malam aku tak lupa berdoa atas apa yang telah aku terima saat ini, sejak mengalami musibah itu aku merasa semakin merana, sedih, dan sering berkeluh kesah kenapa musibah itu menimpa diriku? Aku berpikir sejak kecil aku tidak pernah melakukan kejahatan, kenapa aku harus mengalami penderitaan dan sengsara? Yang paling kasihan adalah putriku yang ikut menjadi korban.
Keliataannya aku sudah sembuh dan boleh pulang, tapi karena dokter tidak bekerja secara cermat waktu mengoperasi perutku, meletakkan isi perut tidak pada posisi semula, kondisi badanku menjadi tidak normal, ada bagian perut yang menonjol, ada bagian yang kosong, setiap habis makan ataupun sedang batuk, bagian perut yang dioperasi terasa sakit, demikian pula saat tidur, saat membalikkan badan, isi perutku bergerak naik turun pindah posisi, sungguh sangat menyiksa sekali. Karena tidak tahan aku pun kembali ke rumah sakit, dokter yang memeriksa menjelaskan, “Waktu itu, para dokter yakin jiwamu tidak dapat tertolong lagi, maka isi perutmu tidak dikembalikan pada posisi semula.” Akihat dari keteledoran dokter, aku harus menjalani tiga kali operasi besar dan tiga belas kali operasi kecil. Pada umumnya, orang yang menjalani operasi sebanyak itu jiwanya susah diselamatkan.
Mungkin karena aku orang miskin, orang dusun lagi, badanku dijadikan alat percobaan dan permainan lagi, beberapa kali perutku dibedah dan dijahit sembarangan. Ahh,,, Betapa menderitanya aku kala itu.
Suatu hari, seperti biasa aku berdoa dengan khidmat, mendadak aku jatuh dan pingsan. Dalam keadaan tidak sadar itu, aku mendapat diriku seorang pemuda yang menyandang panah dan busur sedang berburu di tengah hutan, ditemani dengan seorang pembantu yang membawa parang. Di hutan pemuda itu melihat seekor orang utan yang bertengger di atas pohon, ia kemudian membidikkan panah ke arah orang utan itu, orang utan itu pun jatuh terpanah dari atas pohon, meski orang utan itu terluka akan tetapi tidak mati seketika, maka pembantu itu memburu ke sana, orang utan itu ditusuk dan dibacoknya dengan parang hingga mati. Bebeapa waktu kemudian, datang lagi orang utan yang lebih besar hendak menuntut balas kematian anaknya, pemuda itu lari terbirit-birit ketakutan dikejar orang utan besar itu, sampai di pinggir sungai ia terpaksa terjun ke dalam air, orang utan itu juga terjun ke air serta mencekik leher pemuda itu….
Kemudian aku pun siuman, aku pun duduk dan berpikir sejenak apa yang telah aku alami barusan. Akhirnya aku pun tersadar bahwa tadi aku diberi petunjuk, bahwa hidupku di masa lalu adalah seorang pemuda, putriku adalah seorang pembantu, sedang orang utan tadi adalah suamiku. Aku melukainya dengan bidikan panah, sedang pembantuku membunuhnya dengan parang.
Setelah mengalami kejadian itu, aku pun sadar dalam kehidupan masa lalu, sebagai pemburu binatang, entah berapa banyak jiwa yang tidak bersalah melayang di tanganku, maka pada kehidupanku saat ini aku selalu menderita dan sengsara, semua ini adalah akibat dari hukum karma sebab akibat. Semenjak itu, aku pun selalu berdoa dan melakukan kebaikan.
Dari cerita di atas, kita dapat memetik sebuah pelajaran bagi diri kita, agar kita harus selalu untuk berdoa (sesuai dengan agama dan kepercayaan kita masing-masing) dan hendaknya kita selalu melakukan kebaikan bagi semua makhluk hidup dan sesama kita…
Agar hidup kita pun bahagia tanpa adanya perasaan dendam, benci, permusuhan…
“Hwatsu,” nenek Tan Bi Gwat mulai berkisah, “aku ini perempuan malang yang selalu hidup menderita, pada usia 23 tahun, aku ikut suami berlayar ke Taiwan dan mencari nafkah di sini. Beberapa tahun lamanya suamiku bekerja keras dan berat untuk membiayai hidup keluarga.
Hingga suatu hari suamiku jatuh sakit, meski sudah berobat ke mana-mana penyakitnya bertambah parah, tabungan kami yang sedikit akhirnya habis untuk biaya pengobatan, akhirnya suami saya meninggal dunia. Waktu itu aku berumur 33 tahun.
Di masa hidupnya suamiku adalah pekerja yang tekun dan rajin. Namun, situasi dan fasilitas kerja yang tidak memadai menyebabkan suamiku jatuh sakit dan tidak dapat terobati lagi.
Selama beberapa tahun, di samping harus merawat suami yang sakit, aku pun bekerja dan mengasuh putra-putriku yang masih kecil. Betapa sengsara kehidupan kami waktu itu. Syukur para tetangga dan kerabat kerja suamiku yang baik hati bergotong-royong membelikan peti mati dan membereskan penguburan jenasah suamiku, sehingga beban yang teramat berat ini terasa sedikit ringan.
Setelah suamiku tiada, aku dan kedua anakku terpaksa menumpang tinggal di rumah adik suamiku, padahal kehidupan keluarga mereka juga pas-pasan.
Dua tahun lamanya, kami tinggal berdesak-desakan di dalam rumah yang sempit dan reyot, beberapa lama kemudian aku merasa tak mungkin kami bertiga tinggal lebih lama lagi bersama mereka. Maka aku pun memutuskan untuk pindah ke tempat yang lain yang diberikan oleh bekas teman suamiku yang baik hati. Meskipun hanya berupa pondok emperan, di sini kami bertiga harus berjuang keras untuk mencari nafkah. Pada waktu itu, putraku berumur 10 tahun, terpaksa harus bekerja sebagai pembantu kuli bangunan di tambang batu bara, sedangkan putriku berkeliling kota menjajakan makanan kecil, sedangakan aku bekerja sebagai tukang cuci pakaian dan kerja serabutan lain untuk bertahan hidup. Berkat doa sepanjang hari, meski keadaan kami masih serba kekurangan, namun jauh lebih tentram dan bebas.
Adik suamiku sering berkunjung membawa oleh-oleh untuk kedua anakku, melihat pakaian anakku yang compang-camping, makan tidak kenyang, tidur tidak nyenyak, maka dia menganjurkan supaya untuk menikah lagi. Demi masa depan anak-anakku, akhirnya aku menerima sarannya setelah didesak berulang kali, atas inisiatifnya aku diperkenalkan dengan seorang laki-laki bernama Ui-Ciok Liang.
Akhirnya kami menikah, selama beberapa tahun kami hidup rukun dan tentram, karena aku tidak melahirkan anak lagi, maka suamiku amat menyayangi putra-putriku, dan di sisi lain kehidupan kami mulai meningkat, anak-anak juga mulai dapat bersekolah.
Sehingga aku merasa lega karena masa depan putra-putriku dapat terjamin.
Pada waktu itu, sebagai pengungsi menurut aturan aku dilarang menikah dengan penduduk setempat, maka dalam catatan kartu penduduk hubungan kami hanya dianggap sebagai “kumpul kebo” (samen leven) saja, secara hukum tidak dianggap sebagai suami istri yang resmi. Karena masalah kependudukan dan formalitas penikahan itu, suamiku mulai sering marah-marah dan gundah, padahal berbagai cara dan upaya sudah kami tempuh, akan tetapi urusan itu tidak pernah selesai juga.
Kebetulan kakak suamiku bekerja di kantor catatan sipil di kota, tahu tata hukum dan peraturan kependudukan, walaupun orang dalam ia tidak mampu membantu menyelesaikan masalah itu. Kemudian ia mengajurkan adiknya untuk bercerai dengan kami dan menikah lagi dengan perempuan lain.
Karena masalah yang tidak beres itu, tidak jarang suamiku ditertawakan oleh teman-temannya, “Sudah berapa tahun kamu hidup dengan ibu dan anaknya itu, tapi hukum tidak mengakui pernikahan kalian, hanya secara adat boleh dianggap sebagai “kumpul” saja. Kenapa kamu tidak menikah lagi saja dengan perempuan yang lebih muda?”
“Secara resmi aku memang bukan suami Bi-Gwat,” kata suamiku membalas ejekan temannya itu, “tapi aku bisa membuktikan bahwa aku bisa membereskan persoalan ini.”
Orang lain malah ikut-ikutan menghasut, “Dianjurkan menikah lagi, kamu kok malah tidak mau, padahal perempuan itu lo bukan istrimu secara resmi, lalu apa artinya kamu berkeluarga?”
Suamiku menjawab, “ Kalau terpaksa aku akan membunuhnya, aku tak rela bila dia menjadi istri orang lain.”
Pada tanggal 15 bulan 8, udara pada saat itu amat panas dan tidak enak, pada malam hari itu, aku melihat rona muka suamiku agak ganjil, maka aku waspada dan siaga, karena secara diam-diam ada orang yang memberitahu padaku bahwa suamiku akan membunuhku malam itu juga. Menjelang tidur aku berkata kepada suamiku, “Sudah beberapa tahun kita tinggal sebagai layaknya suami istri resmi, betapa rukun dan damai kehidupan saat ini, masalah kependudukan dan pernikahan itu kan tidak perlu kita risaukan? Lalu apa alasannya kamu sering marah dan menyalahkannku? Ada orang yang mengatakan bahwa engkau akan membunuhku, apa benar demikian?”
“Ah jangan percaya omongan orang lain,” demikian keluh suamiku, “mereka hanya mengodamu saja, bukankah aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku? Anak-anak juga saya pada aku, kenapa aku harus membunuhmu? Jangan hiraukan omongan orang.”
“Aku pun berpikir demikian, anak-anak patuh dan hormat padamu, soal resmi tidak pernikahan kita, kenapa harus dirisaukan?”, demikian bujukku.
Karena masalah itu telah aku bicarakan dari hati ke hati, aku merasa tidak ada gejala yang menguatirkan, selanjutnya hidup ini akan terasa lebih tentram dan damai. Dalam beberapa waktu, masalah itu tidak aku pikirkan lagi.
Pada tanggal 25 tengah malam, entah kenapa sewaktu kita semua sudah tertidur dengan lelap, mendadak aku terjaga dari tidurku dan kulihat suamiku menghunus sebilah pedang samurai, sambil bergelak tawa yang beringas secara membabi buta ia menusuk dan membacok perut, dada, pundak, kaki, tanganku, perutku tertusuk bolong dan sobek, isi perutku kedodoran keluar, sebagian malah ada ususku yang putus berceceran di lantai akibat amukan amukannya yang kalap. Entah kenapa, aku tidak merasa sakit sama sekali, tidak pingsan dan tidak berusaha lari untuk menyelamatkan diri.
Di tengah gelak tawanya yang beringas ia berkata, “Membabat rumput itu harus seakar-akarnya. Satu pun tidak boleh ada yang ketinggalan.”
Putriku yang waktu itu berusia 14 belas tahun juga diserang hingga terluka parah, dalam usahanya untuk melarikan diri sambil menjerit ketakutan, ia terjungkal jatuh dari loteng, dan nyawanya tidak dapat tertolong lagi. Melihat ibu dan kakaknya yang mati terbunuh, putraku berdiri terkesima di atas loteng, tanpa menghiraukan keadaanku sendiri, aku berteriak menyuruhnya untuk melarikan diri. Namun, suamiku mengejarnya ke atas dan dan hendak membunuhnya pula, aku mencegah dan berusaha merebut samurai dari tangannya, jari-jari tangan kananku putus karenanya. Untung putraku lolos dari maut dan ditolong oleh para tetangga yang berdatangan setelah mendengar keributan ini. Melihat banyak orang bedatangan ke rumahnya, suamiku berusaha bunuh diri dengan menusukkan samurai ke tubuhnya, akan tetapi lukanya tidak parah, polisi yang mendapat lapran itu datang dan memborgolnya.
Waktu itu aku tidak memperdulikan keadaaanku sendiri, yang kukuatirkan hanya keselamatan putra-putriku, seorang tetanggaku membujukku, “Coba kaulihat dirimu sendiri, badanmu penuh dengan lukua dan lukamu amat parah. Anak-anak sudah selamat kok tidak perlu kamu kuatirkan.”
Mendengar ucapan itu, hatiku merasa lega, rasa sakit tak dapat lagi aku tahan lagi, badan menjadi lemas lunglai, rasanya aku kehabisan banyak darah, akhirnya aku pun ambruk dan tak sadarkan diri. Polisi segera membawaku ke rumah sakit di kota untuk memperoleh pertolongan. Pada waktu itu, rumah sakit swasta di kota tidak mau menerima diriku.
Karena sudah empat jam luka-luka di tubuhku belum terawat, jangan kata dijahit ataupun dioperasi, diobati juga belum, tuibuhku berlepotan darah, keadaanku waktu itu sedang dalam kritis. Celakanya rumah sakit baru buka dan mau menerima pasien setelah jam 7 pagi, kira-kira jam sebelas siang, administrasi baru selesai dibereskan, aku akhirnya digotong ke kamar operasi, dokter lalu menjahit dan mengoperasi luka-luka di tubuhku.
Direktur rumah sakit datang menjenguk keadaaanku, sebagai ahli dokter bedah ia juga sibuk menolongku, operasi dilakukan beberapa jam, aku harus menjalani transfusi darah, perutku yang bolong dioperasi dan dijahit, sebagian usus ada yang putus harus dipotong dan dibuang, sebagian lagi malah ada yang membusuk. Keadaanku amat gawat, dokter menilai dengan kondisiku waktu itu, jiwaku tak mungkin dapat ditolong lagi, maka operasi diselesaikan secara terburu-buru, isi perut yang kedodoran keluar dimasukkan begitu saja lalu dijahit secara kasar, maklum mereka beranggapan hidupku tinggal beberapa jam lagi.
Malam harinya, aku dipindah ke kamar mayat untuk menunggu ajal, kebetulan suamiku yang mencoba bunuh diri dengan luka-luka yang tidak terlalu parah, disekap di kamar sebelah, samar-samar seseorang bertanya kepadanya, “Kenapa kau ingin membunuh istrimu?” suamiku menjawab, “Perempuan itu bejat! Kotor dan jahat! Maka aku pun membunuhnya. Apakah wanita itu dapat tertolong?” lalu orang itu menjelaskan, “Mana mungkin dapat tertolong. Dokter mengatakan bahwa tengah malam nanti jiwanya pasti akan melayang.” Maka suamiku menyampaikan pesan kepada suster tadi, untuk memberikan kabar lagi besok pagi. Dari nada bicaranya aku merasakan bahwa laki-laki itu tidak menyesal sedikitpun, malam itu tidak terdengar lagi ocehannya, mungkin sudah tertidur pulas dan mimpi indah, hasratnya sangat besar untuk membunuhku.
Meski aku dalam keadaaan sekarat, pembicaraan mereka dapat kudengarkan dengan jelas, betapa pedih dan dendam hatiku mendengar tuduhan suamiku yang kejam itu, rasanya aku ingin mengaruk putus benang jahitan operasiku biar aku lekas mati, sayang tenagaku tak mampu aku kerahkan, jari tanganku pun tak mampu aku gerakkan, terpaksa aku hanya menanti ajal.
Waktu suster dinas malam datang, rekannya yang tiba saatnya istirahat memberitahau, “Ada pasien perempuan di kamar sebelah, menurut dokter jiwanya tak dapat tertolong lagi diperkirakan menjelang tengah malam ajalnya akan tiba, dokter berpesan agar engkau memperhatikan keadaannya, kapan dia menghembuskan nafas terakhirnya, secara tepat dibuatkan laporan.” Beberapa waktu kemudian, suster yang dinas malam pulang ke rumahnya mengajak suaminya sebagai teman jaga malam, menunggu ajalku.
Aku tahu ajalku tidak lama lagi, aku penasaran, aku merasa menyesal, hidupku sangat menderita dan sengsara, jiwaku seperti tidak berharga lagi. Suster yang mengajak suaminya jaga malah tertidur pulas, tidak menuaikan kewajibannya sebagaimana semestinya, kalau sewaktu-waktu jiwaku melayang, entah bagaimana dia akan bertanggungjawab. Setengah jam menjelang tengah malam, lahir batinku mendadak menjadi jernih, tiba-tiba teringat olehku akan dewi Kwan Im yang welas asih dan selalu menmberi pertolongan pada umatnya. Sejak kecil aku adalah seorang umat buddhis yang saleh dan selalu rajin sembahyang, aku pun memejam mataku dan mulai berdoa secara terus-menerus, secara tidak terduga, terjadilah keajaiban, samar-samar aku merasakan adanya perubahan di kamar mayat itu, waktu aku sedikit membuka mataku, tidak kudapatkan lagi orang di kamar itu, namun cahaya cemerlang membuat kamar mayat itu terang benderang, sekonyong-konyong tampak Dewi Kwan Im muncul dan berada di pinggir pembaringanku, di belakangnya tampak berbaris beberapa bayangan orang, semua bersikap khidmad menunduk membaca doa, Dewi Kwan Im memegang selembar daun pisang yang diangsurkan kepadaku.
Aku pun merasa heran, kenapa daun pisang diberikan kepadaku, lalu Dewi Kwan Im menjelaskan kepadaku, “Ini bukan daun pisang, tetapi pusaka yang tidak terdapat di dunia, bentuknya memang mirip daun pisang di dunia.” Begitu aku menerima pusaka mirip daun pisang itu, seketika aku merasa deritaku banyak berkurang. Samar-samar aku masih ingat seperti menginggau sendiri, “Oh tidak ada di dunia, syukurlah.” Lalu aku tidur pulas dengan tenang. Keesokan pagi harinya, segala derita tidak kurasakan lagi, bukan saja ajalku tidak tiba tengah malam tadi, keadaanku malah lebih segar, tenang dan sadar, namun tubuhku masih terasa lemas.
Pada hari ketiga, rumah sakit itu menjadi geger, dokter spesialis yang diutus Departemen Kehakiman di Taipe segera datang, lima orang dokter memeriksaku secara bergiliran lalu mengoperasiku lagi. Maklum secara medis belum pernah ada pasien yang terluka seperti kondisiku dapat bertahan hidup dari waktu yang diperkirakan pihak rumah sakit. Kenyataanya aku terus bertahan hidup hingga beberapa hari lagi, kasus ini mengemparkan kalangan kedokteran dan masyarakat. Walikota Ki Liong menyempatkaj waktunya untuk datang menjengukku serta menghiburku, “Dulu engkau pasti pernah melakukan kebaikan, maka dewa melindungimu. Ditinjau kondisimu saat ini, mustahil kalau orang biasa dapat hidup. Kenyataannya kamu masih hidup, agaknya rejekimu besar sekali.”
Mendengar ucapan walikota aku menjadi terharu dan menangis sesengukan, terbayang olehku betapa menderitanya hidupku selama ini, suami mati keluarga berantakan, kapan aku pernah menerima rejeki sebesar ini?
Walikota lalu menghiburku lagi, “Sebagian usus dan perutmu sudah membusuk, kau tidak boleh banyak bergerak, jangan sedih putra-putrimu sudah tertolong dan selamat.”
“Jangan membohongiku,” kataku sedih, “aku tahu putriku telah meninggal dan telah diperabukan.”
“Syukurlah kalau kau sudah tahu, agaknya putrimu tidak punya rejeki sebesar dirimu, dengan uang pribadiku akan kubayar seluruh biaya pengobatanmu. Dokter memberitahuku, orang yang perutnya bolong dan usus kedodoran yang membusuk, jiwanya tak mungkin dapat diselamatkan lagi. Tapi engkau tidak mati, kejadian ini sungguh sangat aneh, aku yakin rejekimu memang besar.”
Walikota betul-betul menepati janjinya, semua biaya pengobatan di rumah sakit itu telah dilunasi semua, waktu pulang aku diberi oleh-oleh dan uang, setiap Sin Cia (Tahun Baru Imlek) beliau selalu mengirim kado untuk kami berdua sebagai ucapan selamat.
Beberapa hari kemudian, keadaaanku berangsur-angsur membaik, kudengar suamiku bertanya pada suster, “Tengah malam yang kemarin, apa wanita jahat itu sudah mampus?”
Suster yang dinas malam itu menjawab, “Sungguh sangat aneh, bukan saja tidak mati, ia malah sembuh lebih cepat dibanding orang lain, keliatannya tidak kesakitan lagi.”
Suamiku mengertak gigi, suaranya terdengar geram, “Hm, agaknya aku gagal membunuhnya, lain kali akan kupenggal kepalanya, kalau leher sudah putus apa dia masih bisa hidup?”
Kuatir suamiku berbuat jahat lagi, pihak rumah sakit memborgol kaki dan tangannya. Entah dari siapa ia tahu bahwa kamarku akan dipindahkan ke lantai dua besoknya, dengan geram ia berkata, “Pisau aku tidak punya, tapi dengan borgol besi ini aku dapat memukul hancur perut dan dadanya, buktikan saja apa dia masih dapat hidup?”
Pada suatu hari keadaan sepi, diam-diam suamiku naik ke lantai dua untuk mencari kamarku, untung sebelum berbuat jahat dia kepergok penjaga lalu menghajarnya jatuh ke bawah loteng, sejak saat itudia diisolir dalam kamar tersendiri. Setelah sembuh, suamiku diajukan ke meja hijau dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.
Setelah sembuh, aku akhirnya pulang ke rumah, siang malam aku tak lupa berdoa atas apa yang telah aku terima saat ini, sejak mengalami musibah itu aku merasa semakin merana, sedih, dan sering berkeluh kesah kenapa musibah itu menimpa diriku? Aku berpikir sejak kecil aku tidak pernah melakukan kejahatan, kenapa aku harus mengalami penderitaan dan sengsara? Yang paling kasihan adalah putriku yang ikut menjadi korban.
Keliataannya aku sudah sembuh dan boleh pulang, tapi karena dokter tidak bekerja secara cermat waktu mengoperasi perutku, meletakkan isi perut tidak pada posisi semula, kondisi badanku menjadi tidak normal, ada bagian perut yang menonjol, ada bagian yang kosong, setiap habis makan ataupun sedang batuk, bagian perut yang dioperasi terasa sakit, demikian pula saat tidur, saat membalikkan badan, isi perutku bergerak naik turun pindah posisi, sungguh sangat menyiksa sekali. Karena tidak tahan aku pun kembali ke rumah sakit, dokter yang memeriksa menjelaskan, “Waktu itu, para dokter yakin jiwamu tidak dapat tertolong lagi, maka isi perutmu tidak dikembalikan pada posisi semula.” Akihat dari keteledoran dokter, aku harus menjalani tiga kali operasi besar dan tiga belas kali operasi kecil. Pada umumnya, orang yang menjalani operasi sebanyak itu jiwanya susah diselamatkan.
Mungkin karena aku orang miskin, orang dusun lagi, badanku dijadikan alat percobaan dan permainan lagi, beberapa kali perutku dibedah dan dijahit sembarangan. Ahh,,, Betapa menderitanya aku kala itu.
Suatu hari, seperti biasa aku berdoa dengan khidmat, mendadak aku jatuh dan pingsan. Dalam keadaan tidak sadar itu, aku mendapat diriku seorang pemuda yang menyandang panah dan busur sedang berburu di tengah hutan, ditemani dengan seorang pembantu yang membawa parang. Di hutan pemuda itu melihat seekor orang utan yang bertengger di atas pohon, ia kemudian membidikkan panah ke arah orang utan itu, orang utan itu pun jatuh terpanah dari atas pohon, meski orang utan itu terluka akan tetapi tidak mati seketika, maka pembantu itu memburu ke sana, orang utan itu ditusuk dan dibacoknya dengan parang hingga mati. Bebeapa waktu kemudian, datang lagi orang utan yang lebih besar hendak menuntut balas kematian anaknya, pemuda itu lari terbirit-birit ketakutan dikejar orang utan besar itu, sampai di pinggir sungai ia terpaksa terjun ke dalam air, orang utan itu juga terjun ke air serta mencekik leher pemuda itu….
Kemudian aku pun siuman, aku pun duduk dan berpikir sejenak apa yang telah aku alami barusan. Akhirnya aku pun tersadar bahwa tadi aku diberi petunjuk, bahwa hidupku di masa lalu adalah seorang pemuda, putriku adalah seorang pembantu, sedang orang utan tadi adalah suamiku. Aku melukainya dengan bidikan panah, sedang pembantuku membunuhnya dengan parang.
Setelah mengalami kejadian itu, aku pun sadar dalam kehidupan masa lalu, sebagai pemburu binatang, entah berapa banyak jiwa yang tidak bersalah melayang di tanganku, maka pada kehidupanku saat ini aku selalu menderita dan sengsara, semua ini adalah akibat dari hukum karma sebab akibat. Semenjak itu, aku pun selalu berdoa dan melakukan kebaikan.
Dari cerita di atas, kita dapat memetik sebuah pelajaran bagi diri kita, agar kita harus selalu untuk berdoa (sesuai dengan agama dan kepercayaan kita masing-masing) dan hendaknya kita selalu melakukan kebaikan bagi semua makhluk hidup dan sesama kita…
Agar hidup kita pun bahagia tanpa adanya perasaan dendam, benci, permusuhan…
Renungan :)
Saat bertemu dgn org yg benar2 engkau kasihi,haruslah berusaha memperoleh kesempatan utk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi,segalanya telah terlambat.
Saat bertemu teman yg dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia,teman sejati tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu, Ingat utk bersyukur padanya. Karena dialah yg mengubah hidupmu.
Saat bertemu ...org yg pernah kau cintai, ingatlah dgn tersenyum utk berterima kasih. Karena dialah org yg mebuatmu lebih mengerti tentang kasih.
Saat bertemu org yg pernah kau benci, sapalah dgn tersenyum.
Karena dia membuatmu semakin teguh dan kuat.
Saat bertemu org yg pernah mengkhianatimu, baik2lah berbincang dengannya. Karena jika bukan karena dia, hari ini kau tak memahami dunia ini.
Saat bertemu org yg tidak dikenal, pancarkanlah cinta kasih. Karena saat kau melakukannya, bukankah bahagia?
Saat bertemu org yg tergesa2 meninggalkanmu, Berterimakasihlah bhw dia pernah ada dlm hidupmu. Karena dia adalah bagian dari masa lalumu.
Saat bertemu org yg pernah salah paham padamu, gunakan saat tsb utk menjelaskannya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.
Saat bertemu org yg saat ini menemanimu seumur hidup, berterimakasihlah sepenuhnya bhw dia mencintaimu. Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati.
Saat membaca artikel ini,
Renungkanlah...
Suatu saat semua yg kita miliki harus DILEPASKAN... Karena di Dunia ini TAK ADA yg KEKAL dan ABADI O:).
Karena ketika dia telah pergi,segalanya telah terlambat.
Saat bertemu teman yg dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia,teman sejati tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu, Ingat utk bersyukur padanya. Karena dialah yg mengubah hidupmu.
Saat bertemu ...org yg pernah kau cintai, ingatlah dgn tersenyum utk berterima kasih. Karena dialah org yg mebuatmu lebih mengerti tentang kasih.
Saat bertemu org yg pernah kau benci, sapalah dgn tersenyum.
Karena dia membuatmu semakin teguh dan kuat.
Saat bertemu org yg pernah mengkhianatimu, baik2lah berbincang dengannya. Karena jika bukan karena dia, hari ini kau tak memahami dunia ini.
Saat bertemu org yg tidak dikenal, pancarkanlah cinta kasih. Karena saat kau melakukannya, bukankah bahagia?
Saat bertemu org yg tergesa2 meninggalkanmu, Berterimakasihlah bhw dia pernah ada dlm hidupmu. Karena dia adalah bagian dari masa lalumu.
Saat bertemu org yg pernah salah paham padamu, gunakan saat tsb utk menjelaskannya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.
Saat bertemu org yg saat ini menemanimu seumur hidup, berterimakasihlah sepenuhnya bhw dia mencintaimu. Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati.
Saat membaca artikel ini,
Renungkanlah...
Suatu saat semua yg kita miliki harus DILEPASKAN... Karena di Dunia ini TAK ADA yg KEKAL dan ABADI O:).
Kisah Nyata tentang Hukum Karma
Kisah Nyata tentang Hukum Karma
Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
Semoga semua makhluk menyadari Hukum Karma.
Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
Semoga semua makhluk menyadari Hukum Karma.
Keluarga Kera.. (Kisah Nyata)
Sebuah yayasan Fu Lik di Thailand terdaftar sebuah keluarga yg membutuhkan bantuan dalam jangka panjang, disebut dgn keluarga kera. Mereka bertempat tinggal di Thailand Selatan Sulathani, dan laporan ini ditul...is oleh biksu Phai Chiu TaSe, kepala vihara yg bertempat tinggal berdekatan dgn keluarga kera tsb.
Ada satu kelompok dr yayasan bertugas untuk memeriksa setiap laporan yg masuk. Di Thailand ada 76 tempat, tidak peduli dekat atau jauh, begitu mendapatkan laporan, paling lambat 1 minggu harus memberikan laporan akurat, dan setelah itu baru memberi bantuan. Beberapa tahun ini yg memohon bantuan makin lama makin banyak, kali ini saya ditugaskan ke Sulathani untuk memeriksa keluarga kera ini.
Keluarga kera ini terdiri dari seorang ibu yg telah menjanda bernama Niang Lien berusia 47 tahun, bekerja sebagai pemotong rumput di sawah dan harus merawat serta menjaga anak. Anak tertuanya adalah seorang perempuan yg berumur 2tahun, dari umur 10thn tiba-tiba matanya buta, selama 12tahun ini melalui hari-hari yg tidak disertai terang sedikitpun. Anak ke 2a, 3 dan 4 smuanya laki-laki, yg berumur 19, 17 dan 15tahun. Tiga anak ini begitu lahir sudah seperti kera, tidak suka memakai baju, dan suka memanjat pohon mengambil buah-buahan untuk makanan sehari-hari, tidak suka makan nasi, semuanya hanya bisa…in.. in .. ya..ya..sama sekali tidak bisa bicara, dan tidak bisa mengurus diri sendiri. Ketiga putranya yg sudah berumur 10 thn itu masih dimandiin dan disuapi ibunya. Satu keluarga 5 orang itu bergantung sekai dgn vihara yg terletak di sebelah rumahnya.
Sang Ibu karena harus memotong rumput di sawah jadi tidak bisa pergi jauh-jauh, karena dia harus menjaga 4 anaknya. Walaupun putrinya buta, namun masih bisa merawat diri sendiri. Sedangkan ketiga putranya idiot seperti kera, namun sang ibu tetap menyayanginya dan menjaga dengan penuh kasih saying. Setiap bulan hanya bekerja tidak lebih dari 10hari, karena harus tinggal di rumah untuk merawat dan menjaga anak-anaknya, dan melewati hari kadang lapar kadang kenyang. Vihara sangat berjauhan dgn kota, sehingga jarang orang yg datang memberi sedekah dan di vihara tersebut hanya ada 3orang biksu, setiap pagi harus menempuh perjalanan yg jauh baru bisa mendapatkan sedekah. Kadang mendapatkan sedekah yg banyak, maka dibagikan kepada keluarga sebelah ini, namun ketiga biksu ini juga hidup dalam lapar dan kenyang, maka kepala vihara menulis permohonan bantuan kepada yayasan untuk membantu keluarga kera.
Setelah kita membuat laporan yg jelas, lalu memotret keadaan sana, barulah kembali ke vihara dan berbincang-bincang dgn biksu. Sang biksu berkata bahwa sudah mengenal keluarga kera ini 20tahun lebih lamanya, sebelum anak-anaknya lahir sudah mengenal suami istri tsb, mereka sebenarnya bekerja di perkebunan, dan mempunyai 30 hektar tanaman rambutan, setiap tahunnya ada pemasukan puluhan ribu bath.
Setiap kali musim rambutan, pasti datang banyak tupai, kelelawar dank era-kera yg suka makan buah-buahan. Paling banyak adalah tupai dan kelelawar, dalam waktu semalam bisa menghabiskan buahan di satu pohon tsb. Dan begitu bangun pagi hanya tinggal pohon kering yg tidak ada buahnya sama sekali. Orang yg tidak tinggal di perkebunan pastilah tidak percaya akan hal ini.
Maka orang perkebunan menggunakan beberapa cara, kadang lembur hingga malam dgn memakai senjata karet, atau di pohon memasang alat, begitu angin bertiup maka alat-alat saling bertabrakan dan mengeluarkan suara yg mengagetkan binatang pemakan buan itu. Namun beberapa hari kemudian, tupai yg nakal dan kelelawar yg cerdik mengetahui bhw ini adalah akal-akalan saja, tidak peduli memakai alat apa, hanya bisa menakuti mereka 2 atau 3 kali saja, selanjutnya mereka sudah tidak terkena jebakan lagi.
Orang-orang di perkebunan tsb sangatlah benci kpd kera, karena kera selain tidak mudah tertipu, juga mempunyai kebiasaan buruk yaitu setelah memakan kenyang buahan, masih mematahkan dan merusak tumbuhan yg masih kecil-kecil. Jika orang perkebunan berbuat salah sedikit pada kera, maka datanglah segerombolan kera merusak tanaman dan tumbuhan serta mencuri ayam atau bebek, akhirnya orang perkebunan pun menyerah.
Kira-kira sekitar 24 atau 25 tahun lalu, Niang Lien menikah dgn seorang pemuda yg bernama Nai Man Ye, kakek Nai Man Ye membagi warisan dan Nai Man Ye mendapatkan jatah 30 ha perkebunan rambutan, lalu didirikanlah sebuah rumah di dekatnya. Pengantin muda sering menangkap kera dan dibunuh lalu dipotong dan dimasak sebagai obat penambah tenaga, hal ini adalah menjadi kebiasaan orang di desa tsb. Pada suatu hari datanglah 2ekor kera merah, satu jantan dan satu betina, mungkin karena baru menikah tidak lama, maka mencuri masuk ke kamar Nai Man Ye yg masih pengantin muda juga. Sewaktu suami istri tidak ada di kamar, kera yg satunya mencuri jubah wanita, sdgkan kera yg satunya membuka laci dan mengambil bbrp lembar uang dan sertifikat tanah perkebunan, lalu melompat keluar jendela. Kebetulan Niang Lien masuk ke kamar melihatnya, dia sgtlah terkejut dan segera pergi ke perkebunan menceritakan kpd suaminya dan sama pulang ke rumah dan melihat kedua kera, Nai Man Ye menjadi sangat marah dan kesal, masuk ke kamar mengambil senapan panjang, lalu melepaskan tembakan dan 2kera yg nakal langsung jatuh tersungkur. Nai Man Ye mengangkat kera yg tersungkur di lantai itu dan dengan kejamnya menendang nendang dgn keras, kera nakal yg masih bernafas pd saat itu juga langsung menghembuskan nafasnya yg terakhir! Sejak saat itu Nai Man Ye sgt benci pd kera.
Nai Man Ye sudah mempunyai dendam yg sangat dalam pada kera-kera, maka dia menggunakan berbagai cara, menangkap kera hidup-hidup lalu dibunuhnya atau dengan menembaknya atau pula memukul dgn sekuat tenaga, tidak memberi ampun sedikitpun pada kera-kera itu. Pada awalnya dgn menangkap kera hidup lalu tangan dan kaki kera dipotong langsung dan kera digantung di pohon di bawah sinar matahari yg terik. Kera yg tlh dipotong tangan dan kakinya merasa sakit dan air mata mengalir terus, dijemur di bawah terik matahari yg terik, pelan-pelan pun mati dgn mengenaskan. Nai Man Ye melihatnya dgn sangat gembira, bahkan pernah suatu hari menangkap 2 atau 3 ekor kera dan menggunakan cara demikian membuat kera menderita.
Lalu keahlian nai Man Ye menangkap kera tersebar kemana-mana, ada sekelompok orang ingin membeli kera hidup dengan harga tinggi, dengar2 akan dijual di Hongkong sbg makanan bertambah tenaga pada orang berduit-makan otak kera. Sejak saat itulah Nai Man Ye berganti profesi, melepaskan pekerjaan perkebunannya menjadi penangkap kera hidup, pemasukan uangnya pun lebih banyak drpd menanam rambutan.
Tiga tahun setelah menikah Niang Lien barulah melahirkan seorang anak perempuan, di umur 10thn kedua matanya menjadi buta dan agak sedikit bodoh. Lalu tahun berikutnya melahirkan seoragn anak laki-laki yg mirip dgn kera, seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bulu-bulu, sampai umur 10thn masih belum bisa berbicara, dan tidak mau memakai baju, tdk suka makan nasi, lebih senang memanjat pohon mengambil buahan utk dimakan. Anak ke3 dan 4 juga sama dgn seekor kera. Nai Man Ye sedih dan jatuh sakit, hanya terbaring di atas ranjang beberapa tahun lamanya, menghabiskan banyak uang untuk mengobati penyakitnya, sampai akhitnya menjual tanah perkebunan untuk membeli obat-obatan, sampai uang habis dan selalu mengeluarkan suara seperti kera, beberapa tahun kemudian barulah meninggal dunia. Dan meninggalkan hutang ini untuk istrinya Niang Lien, hingga harus memikul beban dan tanggung jawab sampai saat ini.
KUTIPAN : KISAH NYATA HUKUM KARMA DI ZAMAN MODERN
Sebuah yayasan Fu Lik di Thailand terdaftar sebuah keluarga yg membutuhkan bantuan dalam jangka panjang, disebut dgn keluarga kera. Mereka bertempat tinggal di Thailand Selatan Sulathani, dan laporan ini ditul...is oleh biksu Phai Chiu TaSe, kepala vihara yg bertempat tinggal berdekatan dgn keluarga kera tsb.
Ada satu kelompok dr yayasan bertugas untuk memeriksa setiap laporan yg masuk. Di Thailand ada 76 tempat, tidak peduli dekat atau jauh, begitu mendapatkan laporan, paling lambat 1 minggu harus memberikan laporan akurat, dan setelah itu baru memberi bantuan. Beberapa tahun ini yg memohon bantuan makin lama makin banyak, kali ini saya ditugaskan ke Sulathani untuk memeriksa keluarga kera ini.
Keluarga kera ini terdiri dari seorang ibu yg telah menjanda bernama Niang Lien berusia 47 tahun, bekerja sebagai pemotong rumput di sawah dan harus merawat serta menjaga anak. Anak tertuanya adalah seorang perempuan yg berumur 2tahun, dari umur 10thn tiba-tiba matanya buta, selama 12tahun ini melalui hari-hari yg tidak disertai terang sedikitpun. Anak ke 2a, 3 dan 4 smuanya laki-laki, yg berumur 19, 17 dan 15tahun. Tiga anak ini begitu lahir sudah seperti kera, tidak suka memakai baju, dan suka memanjat pohon mengambil buah-buahan untuk makanan sehari-hari, tidak suka makan nasi, semuanya hanya bisa…in.. in .. ya..ya..sama sekali tidak bisa bicara, dan tidak bisa mengurus diri sendiri. Ketiga putranya yg sudah berumur 10 thn itu masih dimandiin dan disuapi ibunya. Satu keluarga 5 orang itu bergantung sekai dgn vihara yg terletak di sebelah rumahnya.
Sang Ibu karena harus memotong rumput di sawah jadi tidak bisa pergi jauh-jauh, karena dia harus menjaga 4 anaknya. Walaupun putrinya buta, namun masih bisa merawat diri sendiri. Sedangkan ketiga putranya idiot seperti kera, namun sang ibu tetap menyayanginya dan menjaga dengan penuh kasih saying. Setiap bulan hanya bekerja tidak lebih dari 10hari, karena harus tinggal di rumah untuk merawat dan menjaga anak-anaknya, dan melewati hari kadang lapar kadang kenyang. Vihara sangat berjauhan dgn kota, sehingga jarang orang yg datang memberi sedekah dan di vihara tersebut hanya ada 3orang biksu, setiap pagi harus menempuh perjalanan yg jauh baru bisa mendapatkan sedekah. Kadang mendapatkan sedekah yg banyak, maka dibagikan kepada keluarga sebelah ini, namun ketiga biksu ini juga hidup dalam lapar dan kenyang, maka kepala vihara menulis permohonan bantuan kepada yayasan untuk membantu keluarga kera.
Setelah kita membuat laporan yg jelas, lalu memotret keadaan sana, barulah kembali ke vihara dan berbincang-bincang dgn biksu. Sang biksu berkata bahwa sudah mengenal keluarga kera ini 20tahun lebih lamanya, sebelum anak-anaknya lahir sudah mengenal suami istri tsb, mereka sebenarnya bekerja di perkebunan, dan mempunyai 30 hektar tanaman rambutan, setiap tahunnya ada pemasukan puluhan ribu bath.
Setiap kali musim rambutan, pasti datang banyak tupai, kelelawar dank era-kera yg suka makan buah-buahan. Paling banyak adalah tupai dan kelelawar, dalam waktu semalam bisa menghabiskan buahan di satu pohon tsb. Dan begitu bangun pagi hanya tinggal pohon kering yg tidak ada buahnya sama sekali. Orang yg tidak tinggal di perkebunan pastilah tidak percaya akan hal ini.
Maka orang perkebunan menggunakan beberapa cara, kadang lembur hingga malam dgn memakai senjata karet, atau di pohon memasang alat, begitu angin bertiup maka alat-alat saling bertabrakan dan mengeluarkan suara yg mengagetkan binatang pemakan buan itu. Namun beberapa hari kemudian, tupai yg nakal dan kelelawar yg cerdik mengetahui bhw ini adalah akal-akalan saja, tidak peduli memakai alat apa, hanya bisa menakuti mereka 2 atau 3 kali saja, selanjutnya mereka sudah tidak terkena jebakan lagi.
Orang-orang di perkebunan tsb sangatlah benci kpd kera, karena kera selain tidak mudah tertipu, juga mempunyai kebiasaan buruk yaitu setelah memakan kenyang buahan, masih mematahkan dan merusak tumbuhan yg masih kecil-kecil. Jika orang perkebunan berbuat salah sedikit pada kera, maka datanglah segerombolan kera merusak tanaman dan tumbuhan serta mencuri ayam atau bebek, akhirnya orang perkebunan pun menyerah.
Kira-kira sekitar 24 atau 25 tahun lalu, Niang Lien menikah dgn seorang pemuda yg bernama Nai Man Ye, kakek Nai Man Ye membagi warisan dan Nai Man Ye mendapatkan jatah 30 ha perkebunan rambutan, lalu didirikanlah sebuah rumah di dekatnya. Pengantin muda sering menangkap kera dan dibunuh lalu dipotong dan dimasak sebagai obat penambah tenaga, hal ini adalah menjadi kebiasaan orang di desa tsb. Pada suatu hari datanglah 2ekor kera merah, satu jantan dan satu betina, mungkin karena baru menikah tidak lama, maka mencuri masuk ke kamar Nai Man Ye yg masih pengantin muda juga. Sewaktu suami istri tidak ada di kamar, kera yg satunya mencuri jubah wanita, sdgkan kera yg satunya membuka laci dan mengambil bbrp lembar uang dan sertifikat tanah perkebunan, lalu melompat keluar jendela. Kebetulan Niang Lien masuk ke kamar melihatnya, dia sgtlah terkejut dan segera pergi ke perkebunan menceritakan kpd suaminya dan sama pulang ke rumah dan melihat kedua kera, Nai Man Ye menjadi sangat marah dan kesal, masuk ke kamar mengambil senapan panjang, lalu melepaskan tembakan dan 2kera yg nakal langsung jatuh tersungkur. Nai Man Ye mengangkat kera yg tersungkur di lantai itu dan dengan kejamnya menendang nendang dgn keras, kera nakal yg masih bernafas pd saat itu juga langsung menghembuskan nafasnya yg terakhir! Sejak saat itu Nai Man Ye sgt benci pd kera.
Nai Man Ye sudah mempunyai dendam yg sangat dalam pada kera-kera, maka dia menggunakan berbagai cara, menangkap kera hidup-hidup lalu dibunuhnya atau dengan menembaknya atau pula memukul dgn sekuat tenaga, tidak memberi ampun sedikitpun pada kera-kera itu. Pada awalnya dgn menangkap kera hidup lalu tangan dan kaki kera dipotong langsung dan kera digantung di pohon di bawah sinar matahari yg terik. Kera yg tlh dipotong tangan dan kakinya merasa sakit dan air mata mengalir terus, dijemur di bawah terik matahari yg terik, pelan-pelan pun mati dgn mengenaskan. Nai Man Ye melihatnya dgn sangat gembira, bahkan pernah suatu hari menangkap 2 atau 3 ekor kera dan menggunakan cara demikian membuat kera menderita.
Lalu keahlian nai Man Ye menangkap kera tersebar kemana-mana, ada sekelompok orang ingin membeli kera hidup dengan harga tinggi, dengar2 akan dijual di Hongkong sbg makanan bertambah tenaga pada orang berduit-makan otak kera. Sejak saat itulah Nai Man Ye berganti profesi, melepaskan pekerjaan perkebunannya menjadi penangkap kera hidup, pemasukan uangnya pun lebih banyak drpd menanam rambutan.
Tiga tahun setelah menikah Niang Lien barulah melahirkan seorang anak perempuan, di umur 10thn kedua matanya menjadi buta dan agak sedikit bodoh. Lalu tahun berikutnya melahirkan seoragn anak laki-laki yg mirip dgn kera, seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bulu-bulu, sampai umur 10thn masih belum bisa berbicara, dan tidak mau memakai baju, tdk suka makan nasi, lebih senang memanjat pohon mengambil buahan utk dimakan. Anak ke3 dan 4 juga sama dgn seekor kera. Nai Man Ye sedih dan jatuh sakit, hanya terbaring di atas ranjang beberapa tahun lamanya, menghabiskan banyak uang untuk mengobati penyakitnya, sampai akhitnya menjual tanah perkebunan untuk membeli obat-obatan, sampai uang habis dan selalu mengeluarkan suara seperti kera, beberapa tahun kemudian barulah meninggal dunia. Dan meninggalkan hutang ini untuk istrinya Niang Lien, hingga harus memikul beban dan tanggung jawab sampai saat ini.
KUTIPAN : KISAH NYATA HUKUM KARMA DI ZAMAN MODERN
Melakukan hal terbaik untuk orang tua
Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League.... Luke bukanlah seorang pemain yang hebat.
Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak. Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah.
Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.
"Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia". "Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."
Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.
Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri.
"Pelatih", panggilnya.
"Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?"
Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini.
"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke.
"Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu."
Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan.
Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan.
"Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke.
"Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?"
Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata
"Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,...... Ibuku meninggal." Luke kembali menangis.
Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata
"Hari ini,.......hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka.......". Luke kembali menangis terisak-isak.
Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak..... Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke.
Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya............ Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya........
Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya.
Renungan :
Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan-perbuatan tak terpuji, yang membuat mereka malu.
Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya.
Bagaimana dengan Anda?
Berapakah usia Anda saat ini ?
Apakah Anda masih memiliki kesempatan tersebut ?
Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak. Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah.
Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.
"Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia". "Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."
Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.
Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri.
"Pelatih", panggilnya.
"Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?"
Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini.
"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke.
"Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu."
Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan.
Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan.
"Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke.
"Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?"
Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata
"Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,...... Ibuku meninggal." Luke kembali menangis.
Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata
"Hari ini,.......hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka.......". Luke kembali menangis terisak-isak.
Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak..... Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke.
Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya............ Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya........
Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya.
Renungan :
Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan-perbuatan tak terpuji, yang membuat mereka malu.
Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya.
Bagaimana dengan Anda?
Berapakah usia Anda saat ini ?
Apakah Anda masih memiliki kesempatan tersebut ?
Langganan:
Postingan (Atom)


